Inilah Perbuatan Yang dibenci Alloh SWT
Menurut kitab karangan Imam Nawawi “Nashoihul Ibad” diterangkan beberapa Perbuatan Yang dibenci Alloh SWT
Orang kaya yang pelit/bakhil
Orang miskin yang sombong
Orang yang mempunyai sifat ujub/ orang yang merasa baik sendiri dan suka merendahkan orang lain
Ulama yang tama’
Anak muda yang malas melebihi batas (beribadahnya)
Prajurit yang takut
Orang zakat yang ujub
Alim ulama yang sombong
Semoga kita tidak termasuk orang2 dengan kriteria diatas.
aaaamiin.
Perbuatan yang di benci Alloh S.W.T
Posted by muizz
Posted on Sunday, September 14, 2014
with No comments
HATIM AL-ASHAM (orang yang tuli)
Posted by muizz
Posted on Sunday, September 14, 2014
with No comments
NAMA LENGKAPNYA ADALAH ABU
ABDUL RAHMAN HATIM BIN
ALWAN, TERKENAL DENGAN GELAR
AL-ASHAM, DIA TERMASUK TOKOH
GURU BESAR (SYAIKH)
KHURASAN, MURID SYAIKH
SYAQIQ, GURU AHMAD BIN
KHADRAWAIH.
HATIM DIJULUKI
AL-ASHAM (orang yang tuli)
BUKAN KARENA IA TULI AKAN
TETAPI PERNAH IA BERPURA-
PURA TULI KARENA UNTUK
MENJAGA KEHORMATAN
SESEORANG HINGGA IA DIJULUKI
DENGAN AL-ASHAM.
Alkisah.
Pada suatu hari
datanglah seorang wanita
kepadanya untuk meminta
sesuatu. Tanpa disengaja,
wanita itu telah mengeluarkan
kentut dg sdikit keras dihadapan
Hatim Al Asham, maka wanita
itupun menjadi salah tingkah,
tetapi Hatim Al Asham adalah
org yg baik, ia mengerti
bagaimana perasaan wanita,
tentu wanita ini sangat malu
dengan suara kentutnya yg
lumayan keras, jd Hatim pura-
pura tdk mendengar kentut
wanita itu.
Hatim Al Asham berkata : “hai,
keraskanlah suaramu, karena
aku tdk mendengar apa yg
kamu bicarakan”, Hatim
berpura-pura tuli agar wanita
itu menyangka bahwa Hatim
tidak mendengar kentutnya yg
membuat dirinya malu itu,
kemudian wanita itu pun
mengulangi ucapannya dgn
agak keras dan Hatim pun
menjawabnya dg suara agak
keras pula.
Setelah urusan mereka beres,
wanita itu pulang dgn gembira
dan ia tidak malu lagi dgn suara
kentutnya karena ia sudah
pastikan bahwa Hatim Al Asham
tidak mendengarnya.
Semenjak peristiwa itu, dan
sampai 15 tahun , Hatim Al
Asham selalu b’pura-pura tuli,
dan slama itu pula tidak ada
seorangpun yg menceritakan
kpd wanita itu bahwa
sebenarnya pendengaran Hatim
Al Asham masih normal
selayaknya orang lain.
Sungguh begitu baik budi
pekerti Hatim, sehingga ia rela
untuk berpura-pura selama 15
tahun demi menjaga nama baik
dan perasaan wanita itu.
Setelah wanita itu meninggal
dunia, Hatim Al Asham sudah
tdk berpura-pura tulilg, jika
ditanya org lain, dia dpt
menjawabnya dgn mudah, tp ia
selalu mengatakan :
“berbicaralah yg keras!”,
kata-kata itu sudah menjadi
kebiasaannya, karena sudah 15
tahun lamanya ia selalu
mengucapkan hal itu kepada
siapa saja yg menjadi lawan
bicaranya.
Semenjak peristiwa itu, maka
Hatim diberi gelar AL ASHAM yg
artinya si tuli, jd Hatim Al
Alsham berarti Hatim yg tuli.
~Sumber ; Kitab Nashoihul Ibad.
HATIM AL-ASHAM
Posted by muizz
Posted on Sunday, September 14, 2014
with No comments
Dikisahkan suatu saat Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya Hatim al-Asham, “Sejak sejak kapan engkau belajar bersamaku?”, “Sejak tigapuluh tahun, guruku!”, jawab Hatim. “Apakah yang engkau pelajari selama itu, wahai Hatim?”, “Delapan hal, guruku”, jawab Hatim. “Innalillah wa inna ilaihi raji’un, terbuang percuma sajalah umurku bersamamu”, ujar Syaqiq dengan kecewa. “Guruku, aku tidak pelajari yang lain dan aku tidak ingin berdusta”. “Uraikanlah kedelapan hal itu Hatim”. Lalu Hatim menjelaskannya:
Pertama, “Ketika aku memandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, Ketika kekasihnya telah ke kubur, ia merasa kecewa karena ia tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan perbuatan baik yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka ia akan ikut bersamaku”
“Benar sekali Hatim!”, ujar Syaqiq, “Apa yang kedua?”
Kedua, “Ketika ada firman Allah SWT”:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal.” (79:40-41)
Aku perhatikan ayat ini, dan yakinlah aku bahwa firman Allah SWT tersebut benar, maka aku berusaha menolak hawa nafsu sehingga aku tetap taat kepada Allah SWT”
“Yang ketiga?”
“Ketiga aku memandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat setiap makhluk memiliki benda, menghargainya, memandangnya bernilai, dan menjaganya. Kemudian ku perhatikan firman Allah SWT:
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (16:96)
karena itu setiap kali ke atas tanganku jatuh sesuatu yang berharga dan bernilai, iapun kuhadapkan kepada Allah, agar kekal di sisi-Nya”
“Yang keempat?”
“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing orang selalu menaruh perhatian terhadap harta, kebangsawanan, kemuliaan, dan keturunan. Lalu ketika kupandangi semua itu, tiba-tiba tampak tidak ada apa-apanya. Kemudian kuperhatikan firman Allah SWT:
"... Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (49:13)
Akupun bertaqwa kepada Allah, semoga aku menjadi mulia di sisi-Nya.”
Yang kelima, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, ternyata mereka suka saling menohok dan mengutuk satu sama lain. Penyebabnya adalah kedengkian, kemudian kuperhatikan firman Allah:
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (43:32)
karenanya perasaan dengki pun kutinggalkan dan diriku pun “kujauhkan” dari orang banyak. Aku tahu pembagian rizki dari Allah, karena itu permusuhan orang banyak kepadaku kutinggalkan”
Yang keenam, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di duna ini, ternyata mereka suka berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain, akupun kembali kepada firman Allah:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (35:6)
karena itu syetan kupandang sebagai musuhku satu-satunya dan akupun sangat berhati-hati kepadanya, karena Allah menyatakan syetan adalah musuhku”
Syaqiq melajutkan pertanyaannya : “yang ketujuh?”
“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini aku melihat masing-masing orang mencari sepotong dari dunia ini. Lalu ia menghinakan diri padanya dan memasuki bagiannya yang dilarang kemudian kuperhatikan firman Allah:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya . Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata .” (11:6)
aku termasuk binatang melata yang rizkinya ada pada Allah, karenannya kukerjakan apa yang menjadi hak Allah pada diriku, dan kutinggalkan apa yang menjadi hak Allah pada diriku”
Yang terakhir, “kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing orang menggantungkan diri pada makhluk lain. Yang satu pada benda yang dicintainya, yang lain pada perniagaannya, dan perusahaannya, atau pada kesehatan tubuhnya. Masing-masing bergantung pada benda. Lalu aku kembali pada firman Allah:
“..Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (65:33)
Karena itu akupun bertawakkal kepada Allah, ternyata Allah mencukupi keperluanku”
“Hatim, semoga Allah SWT melimpahkan karunia-Nya kepadamu”, ujar Syaqiq
(dinukil dari kitab Ihya’ Ulumiddin jilid 1 bab ilmu)
KISAH SUFI IBRAHIM BIN ADHAM DENGAN PEMUDA PENDOSA
Posted by muizz
Posted on Sunday, September 14, 2014
with 1 comment
Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.
Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu." Orang itu terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut pun." Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?" Orang itu lalu tertunduk dan berkata,"katakanlah yang kedua, Tuan guru!"
Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah." Pendosa itu kembali terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua." Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?" "Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru."
Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah." Orang itu tersentak, "Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?" Ibrahim bin Adham menjawab,"Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?" Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata, "Katakanlah yang keempat, Tuan guru."
Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut." Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?" Ibrahim bin adham menjawab, "Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?" Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata, "Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima."
Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu." Pemuda itupun berkata, "Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali? Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, "Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?" pemuda itupun langsung pucat, dan dengan surau parau menahan ledakan tangis ia mengiba, "Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya." Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.
Semoga kisah ini menjadi renungan bagi kita bersama dalam menapaki setiap langkah kita selagi hidup di dunia.
Ten2Five Lir Ilir Official Video Clip
Posted by muizz
Posted on Wednesday, July 23, 2014
with No comments
habib syekh lir ilir dan padang bulan
Posted by muizz
Posted on Wednesday, July 23, 2014
with No comments









